Adat Istiadat Jawa

Adat Istiadat Jawa

Jawa merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia. Suku ini begitu kental dengan adat istiadat di setiap sendi kehidupan bermasyarakat. Dari mulai awal kehidupan hingga kematian, tak lepas dari adat dan istiadat yang erat. Setiap unsur masyarakatnya memegang teguh adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyang hingga sekarang ini. Berikut beberapa adat istiadat Jawa yang perlu diketahui.

1. Tingkepan atau Mitoni

Tingkepan atau Mitoni

Adat istiadat yang satu ini merupakan sebuah upacara yang dilakukan untuk mensyukuri kehamilan pertama seorang wanita. Di sebut dengan mitoni atau tingkepan, karena pada saat upacara ini dilakukan umumnya pada saat kehamilan berusia 7 bulan. Dalam rangkaian acara pada prosesi ini ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh wanita hamil tersebut.

Dimulai dari mandi dengan air kembang setaman. Kemudian didandani dengan rapi dan cantik, selanjutnya di didoakan oleh seluruh anggota keluarga dan para sesepuh. Hal tersebut bertujuan agar bayi yang ada dalam kandung selamat hingga proses persalinan.

2. Sekaten

Sekaten

Untuk menunjukan rasa hormat serta syukur dari masyarakat Jawa atas kelahiran Rasulullah SAW, nabi terakhir yang mengajarkan Islam yang sempurna hingga menyebarkan ke tanah Jawa. Peringatan ini kerap diadakan pada bulan Maulud untuk menyambut hari kelahiran  Rasulullah dan diadakan kurang lebih selama 7 hari 7 malam berturut-turut.

Tradisi yang satu ini masih kerap dilakukan hingga saat ini, terutama di Keraton Solo maupun Yogyakarta. Dalam acara sekatenan tersebut, biasanya keraton Surakarta akan mempertontonkan dua gamelan legendaris. Yakni gamelan yang diberinama Kyai Gunturmadu serta Guntursari untuk membuat acara tersebut lebih meriah.

3. Kenduren

Kenduren

Kenduren atau selametan merupakan salah satu adat istiadat Jawa yang hingga kini tetap dilestarikan dengan baik. Hal ini dilakukan untuk memperingati sesuatu yang menyenangkan atau sebagai ungkapan rasa syukur atas sesuatu hal. Misalnya, ulang tahun, pindah rumah baru, naik pangkat dan lain sebagainya.

Kenduren sendiri merupakan asimilasi adat Jawa dan Islam sekitar abad 16 masehi. Mulanya, kenduren menggunakan rapalan mantra-mantra, setelah berpadu dengan Islam, mantra tersebut diubah menjadi doa-doa syukur salam Islam.

Begitu pun adanya sesaji yang kerap digunakan sebagai pelengkap kenduren. Saat ini, makanan yang disajikan diubah dengan kegiatan makan bersama sebagai ungkapan dari rasa syukur dan sedekah.

4. Tedak Sinten

Tedak Sinten

Tedak siten merupakan upacara jejak tanah pada bayi yang baru mulai belajar berjalan. Hal ini dilakukan untuk mensyukuri nikmat bahwa sang anak telah tumbuh dan sebagai simbol akan memasuki langkah yang baru di dalam hidupnya. Di sejumlah wilayah lain, upacara ini juga disebut dengan upacara turun tanah.

5. Malam Selikuran

Malam Selikuran

Dalam bahasa Jawa, kata Selikur memiliki makna dua puluh dan memiliki makna yang sangat spesial. Pasalnya, malam selikuran atau malam ke 21 ramadhan dalam adat istiadat jawa merupakan tradisi dalam menyambut malam ke 21 ramadhan. Biasanya, masyarakat akan menyambutnya dengan berdoa bersama pemuka agama setempat dan memasak olahan spesial.

Waktu tersebut menjadi waktu 10 hari terakhir di bulan ramadhan yang digunakan untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Serta muhasabah diri sekaligus mendoakan semua saudara-saudara muslim yang telah berpulang lebih dulu.

Demikian tadi informasi menarik tentang adat istiadat Jawa yang begitu kental di masyarakaatnya. Dari mulai tingkepan atau mitoni, sekaten, kenduren, tedak siten hingga malam selikuran serta masih banyak lagi yang lainnya. Dengan mengatahui infrmasi tersebut semoga bisa menambah wawasan kearifan lokal nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *