kesaktian antareja

Sejarah Antareja | Kisah | Kekuatan | Kesaktian | Saudara

ANTAREJA merupakan putra sulung Bima/Werkudara, satu diantara lima satria Pandawa dengan Dewi Nagagini. Putri Hyang Antaboga dengan Dewi Supreti dari kahyangan Saptapertala. Perkawinan Bima dengan Nagagini berlangsung.

Sesudah momen kebakaran Balai Sigala-gala di mana beberapa Korawa coba membunuh beberapa Pandawa seakan-akan karena kecelakaan.

Bima lalu tinggalkan Nagagini dalam kondisi memiliki kandungan. Antareja lahir serta di besarkan oleh Nagagini sampai dewasa ia akan memutus untuk mencari bapak kandungnya.

Pusaka Antareja

kesaktian antareja

Antareja diberi pusaka Napakawaca oleh Hyang Antaboga hingga kulit tubuhnya jadi kuat serta kebal pada beberapa jenis pusaka serta senjata. Ia juga dianugrahi Cincin Mustikabumi oleh Nagagini yang memiliki kesaktian bisa menghindari diri dari kematian saat masih tetap menyentuh bumi.

Diluar itu Antareja juga mempunyai kesaktian aji Upasanta, di mana lidahnya begitu sakti, mahluk apa pun yang dijilat telapak kakinya akan menjumpai kematian.

Antareja berbentuk jujur, pendiam, begitu berbakti pada yang lebih tua serta sayang pada yang muda, ikhlas berkorban serta besar kepercayaannya pada Sang Maha Pencipta.

Antareja berkedudukan di kasatriyan Randuwatang atau dimaksud jangkarbumi. Berbarengan dengan lahirnya Antareja, raja negara jangkarbumi Prabu Nagabaginda menyerang kagyangan Suralaya.

Ia memohon Dewi Supreti istri Sanghyang Antaboga untuk jadikan permaisurinya, akan tetapi raja Tribuwana tidak sudi, akan tetapi beberapa dewa tidak dapat menantang kesaktian prabu nagabaginda.

Kekuatan Antareja

kesaktian antareja

Antareja memiliki kesaktian toksin/dapat pada air liurnya yang bisa memusnahkan lawan dalam sekejap. Kulitnya yang bersisik Napakawaca dapat meredam serangan senjata tajam. Ia juga memiliki cincin sakti Mustikabumi pemberian dari ibunya untuk sinyal bukti jika Antareja merupakan putra Dewi Nagagini.

Di dalam lakon Subadra Larung, cincin itu dipertunjukkan pada Arya Werkudara ayahnya, hingga bima mengaku putranya. Saat itu Antareja terperanjat lihat perahu mayat wanita yang tidak ada lainnya merupakan Wara Subadra istri Janaka.

Dengan cincin Mustikabumi, Antareja bisa menghidupkan kembali Subadra yang telah wafat karena dibunuh oleh Burisrawa dengan tidak menyengaja.

Pada akhirnya, Gatutkaca yang mendapatkan pekerjaan untuk mengamati jenazah Wara Subadra jadi berprasangka buruk serta menuduh Antareja yang membunuh bibinya itu.

Kedua-duanya lantas berperang, akan tetapi selekasnya dihindari oleh Sri Kresna serta dikasih saran jika kedua-duanya masih tetap saudara.

Wara Subadra sendiri mengakui jika yang membunuh dianya itu satriya Madyapura Raden Burisrawa, putra Prabu Salya raja Mandaraka.

Sumber Cerita Kresna Gugah

kesaktian antareja

Dalam cerita Kresna Gugah, Sri Kresnah mengubah dianya jadi kumbang putih serta tinggalkan jasmaninya berbentuk raksasa yang tengah tidur.

Roh Sri Kresna berbentuk kumbah putih itu menyelidik kitab Jitabsara yang ditulis oleh Batara Panyarikan. Kitab Jitabsara menceritakan Bharatayudha komplet senopati Kurawa berpasangan dengan senopati Pandawa.

Di negara Saptapratala, Hyang Anantaboga, resi Abiyasa, beberapa Pandawa, bergabung untuk menanti Dewi Nagagini yang akan melahirkan putera, berkatalah resi Abiyasa, ”Hyang Anantaboga perkenankanlah nagagini gw bawa serta ke negara Amarta, bila bayi sudah lahir, akan aku berikan kembali.

” Hyang Anantaboga menyetujuinya, serta berangkatlah Resi Abiyasa dengan Dewi Nagagini bersama pada Pandawa kembali pada Amarta. Sesampainya di Amarta sudah ada juga Hyang Kanekaputra serta beberapa bidadari, berkatalah Hyang Narada,

”gara-gara terjadi, tidak lainnya serta tidak bukan, titahku resi Abiyasa akan turunkan ke-alusan-nya Gandamana, apalagi saya hadir di Amarta atas nama Hyang guru, untuk melihat kelahiran bayi Nagagini”.

Tidak lama sesudah Hyang Narada bersabda, lahirlah bayi dari kandungan Dewi Nagagini.

Siapa itu Antasena? Siapa itu Antareja Siapa itu Wisanggeni? Ketiganya merupakan beberapa ksatria putera Pandawa. Yang pertama serta ke-2 merupakan putera Bima alias Werkudoro, yang ke-3 merupakan putera Arjuna alias Janoko.

Antesan dan Wisanggeni

Ada persamaan pokok pada Antasena serta Wisanggeni, yakni saling blak-blakan, jujur, apa yang ada, spontan, sekaligus juga berani menantang junjungan mereka kalaupun mereka meyakini jika junjungan mereka memang salah.

Mereka berdua merupakan kesatria yang tetap siap berperang membela nama besar keluarga Pandawa. Tapi saat mereka mengetahui jika keluarga mereka mulai menjejaki jalan yang sesat, ke-2 kesatria ini tidak segan-segan berteriak dalam bhs “ngoko “, yaitu bhs Jawa yang digunakan pada dua orang yang sama dengan dalam situasi yang benar-benar tidak resmi.

Mereka memakai style bhs “ngoko” karena memang tidak dapat memakai “krama inggil”, yaitu bhs Jawa yang perlu dipakai oleh orang muda pada orangtua atau bhs orang yang berderajat lebih rendah pada mereka yang berderajad tambah tinggi, atau pada dua orang yang sederajat tapi dalam sikap sama-sama menghargai.

Perbedaan Antareja dan Suadaranya

Antareja dikit berlainan dengan dua saudaranya itu, Antareja masih tetap memakai bhs santun, selebihnya karakter yang lain sama juga dengan ke-2 saudaranya.

Antasena, Antareja serta Wisanggeni merupakan ke-3 ksatria yang sangat sakti, sampai beberapa dewa juga gentar.

Dalam wayang Jawa dijelaskan jika beberapa dewa memiliki skenario jika keluarga Bharata (Pandawa serta Kurawa) mesti berperang sampai titik darah penghabisan untuk merebutkan Astinapura. Ini skenario beberapa dewa yang perlu berlangsung.

Karenanya apa pun yang menghambat skenario ini, mesti didepak. Menurut beberapa dewa, Antasena, Antareja serta Wisanggeni merupakan tiga Ksatria Pandawa yang juga bakal menggagalkan Baratayuda atau perang keluarga Barata.

Ke-3 anak Pandawa ini di pastikan akan dalam waktu relatif cepat menumpas Kurawa, hingga yang akan berlangsung merupakan penumpasan kilat, bukan perang dahsyat yang membanjirkan darah di ke-2 pihak.

Karenanya, menurut beberapa dewa, Antasena, Antareja serta Wisanggeni mesti mati untuk Bharatayuda. Untuk arah beberapa dewa itu Antasena, Antareja serta Wisanggeni mesti mati. Ketiganya gugur karena tipu daya beberapa dewa.

Antasena pilih Moksa, Antareja pilih mati menjilat tapak kakinya sendiri serta Wisanggeni gugur menelan liurnya sendiri. Kembali ada persamaan pada ketiganya, yaitu mati dengan kesatria saat menjaga kepercayaan mereka akan kebenaran.

Memang, begitu menyesakkan dada buat orang tidak mati untuk bicara tentang pilihan langkah mesti mati. Tetapi merupakan suatu aksi koruptif bicara tentang Antasena, Antareja serta Wisanggeni tanpa terima langkah ketiganya gugur.

Di antara anak Werkudoro, Antasena merupakan yang tersakti serta terbijak, dia dapat terbang, dapat ambles ke bumi serta dapat tidak mati di darat serta lautan. Kulitnya bersisik serta kebal pada semua jenis senjata Perang.

Senjata Andalan

Senjata ampuhnya terdapat di tangannya, jika telah dipakai untuk menyerang, tidak ada yang dapat meredam kesaktian tangannya, bahkan juga gunungpun roboh jika terkena tinju tangan Antasena.

Hatinya begitu baik menjadi pembela Kebenaran, Lugas serta tegas. Seperti Antareja serta Wisanggeni, Antasena tidak diperbolehkan turut Perang Bharatayudha, karena kesaktiannya yang tidak ada bandingannya dari pihak Kurawa, hingga jika turut perang kondisi jadi tidak berimbang.

Untuk perihal ini pula Sri Kresna diutus beberapa dewa bertindak menjadi negosiator hingga Antasena ingin lakukan ” Bom Bunuh Diri ” moksa sebelum perang Bharatayudha, untuk kesetimbangan semesta, kejayaan, serta nama baik beberapa Dewa.

Sri Kresna menyampaikan bila Pandawa ingin menang karena itu Antareja, Wisanggeni serta Antasena mesti ingin berkorban tidak turut Bharatayudha, alias mesti gugur duluan sebelum berlangsung Perang di Padang Kurusetra.

Momen moksa Raden Antasena termasuk unik, tidak terhitung beberapa ribu kilo mtr. yang ditempuh Sri Kresna untuk mencari kehadiran Raden Antasena, ia menanyakan ke sana ke sini, menjumpai semua penguasa pelosok bumi, serta masih tidak dapat Sri Kresna menemuinya

Tetapi tanpa diduga Raden Antasena muncul di depan Sri Kresna menyerahkan diri. Bahkan juga kehadirannya yang menyamar menjadi orang yang lain tidak diakui oleh Sri Kresna.

Raden Antasena sudah tahu isi dari pemikiran serta apakah yang akan disampaikan Sri Kresna, di sinilah Sri Kresna betul-betul mengaku kedahsyatan Raden Antasena.

Ketetapan Dewata

Kresna sebetulnya sangat begitu menyayangkan mengenai ketetapan dewata untuk memohon ke-2 Putra Werkudara ini untuk moksa. Karena baginya kebijaksanaan Raden Antasena jauh melewati kebijaksanaan Semar, Narada, Hanoman maupun dianya.

Pengetahuannya akan kehidupan serta semua maknanya sangatlah dalam. Sebelum Moksa, Raden Antasena berpesan pada Sri Kresna : “Perang Bharatayuda hanya perang fisik seperti perang-perang besar yang lain, sebagai lambang konflik pada kebenaran serta kejahatan.

Perang sebenarnya pada Kebenaran serta Kejahatan sudah berjalan lama, sebelum Kurawa serta Pandawa dilahirkan. Kedatangan gw tidak dibutuhkan dalam perang di Kurusetra itu.

Gw tidak tega mencabut nyawa mereka yang tidak memahami arah dari peperangan itu. Tolong Berikan salam perpisahan gw untuk Ayahanda gw, Bima, serta berikan permintaan maaf gw yang tidak dapat berbakti kepadanya karena tidak dapat ikut serta dalam Perang Bharatayudha …”

Kesaktian

Antareja mempunyai Ajian Upas Anta pemberian Hyang Anantaboga. Lidahnya begitu sakti, makhluk apa pun yang dijilat sisa telapak kakinya akan menjumpai kematian.

Anatareja berkulit Napakawaca, hingga kebal pada senjata. Ia juga mempunyai cincin Mustikabumi, pemberian ibunya, yang memiliki kesaktian, menghindari dari kematian saat masih tetap menyentuh bumi ataupun tanah

Serta bisa dipakai untuk menghidupkan kembali kematian diluar takdir. Kesaktian lainnya Antareja bisa tidak mati serta berjalan didalam bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *